Saturday, December 05, 2020

Take a tour of the 'mathiverse'

 Published on The Jakarta Post at Sep 29, 2002

Click the image to read the article



Actor's Tale of Modern Love

 

Published on The Jakarta Post at Nov 17, 2002

Click the image to read the article!



Saturday, February 09, 2008

LB VIP Magazine (Vol 1/Feb 08)
Click the images to read the article...

Tuesday, January 15, 2008

Makin Nikmat Memakai Kondom

Please click the image to read the article...

Scent of A Man

Please click to read the article...

Thursday, August 03, 2006

The New Embassy Club
Clubbing di Rumah Boneka


Embassy Club Jakarta memang harum namanya. Club yang dibuka sejak 2002 ini tak hanya digelari club paling happening di Jakarta, tapi juga disebut one of the coolest club in Asia oleh berbagai majalah dan website yang membahas clubbing scenes terkemuka. Setelah tutup karena musibah kebakaran 6 September 2005 lalu, banyak orang bertanya-tanya kapan Embassy beroperasi kembali. Kerinduan itu terjawab lewat Embassy Revival supported by Manhattan Credit Card, 19 Mei 2006 lalu.

Rupanya renovasi panjang Embassy Club tak sekedar memulihkan kondisinya seperti sedia kala. Embassy Club bersolek dan tampil lebih cantik dengan konsep interior Modern Classic. Walaupun renovasinya belum 100% tuntas pada 19 Mei itu, kini Embassy sudah menunjukan tampang cantiknya. Interior mewahnya membuat kita seperti berada dalam rumah boneka yang nyaman. Dengan outfit yang tepat, mungkin saja impian jadi Barbie dalam semalam bisa tercapai.

Tidak ada perubahan lokasi di The New Embassy Club. Masih menempati area lama di Taman Ria Senayan. Sekarang club ini terbagi menjadi 3 segmentasi terfokus. Bagian basement tetap menjadi WonderBar yang merupakan bagian Embassy untuk clubbers muda. The Embassy Club untuk regular clubbers. Sementara lantai 2 disulap menjadi Balcony yang dikhususkan untuk VIP dan Gold Card Member. Pengunjung yang masuk dari WonderBar tidak diizinkan untuk memasuki Embassy lantai 1, tetapi dari Embassy lantai 1 diizinkan memasuki WonderBar.

Kalau soal musik, belum banyak bergeser dari konsistensi menampilkan pumping eclectic selections of beats and grooves from the latest world’s dance music trends. Jadi dijamin pasti akan memanjakan partygoer ibukota. Itulah sebabnya DJ Ai Moonchild yang sudah malang melintang hingga Ibiza Spanyol didaulat tampil pada Grand Reopening-nya.

Perubahan signifikan yang sangat terasa di The New Embassy Club adalah atmosfirnya yang lebih mature. Tempat ini jadi lebih comfortable. Aturan baru membuat tamu yang datang terseleksi dan aman. Embassy Club hanya bisa dimasuki pengunjung pria berusia 21 tahun ke atas atau pengunjung wanita minimal berusia 19 tahun. Pokoknya The New Embassy Club specially designed with avant-garde audio and a lighting system and set to satiate the aural and visual senses of the discerning clubber.

Untuk memasuki The New Embassy Club cukup merogoh kocek untuk first drink charge (FDC) sebesar Rp. 80.000,- dan WonderBar Rp. 60.000. Untuk memasuki Balcony, gratis tapi harus menunjukan Gold Card Member. Tamu yang datang sebelum tengah malam, akan mendapat 2 jenis minuman house pouring. Jika berpesta bersama teman-teman merayakan kemenangan pitching, jangan lupa memesan Jack The Ripper racikan khas tempat ini. Dijamin jadi party pumper yang heboh.

Dimuat di Ad-Diction #04
DUA SISI Seminarti Gobel
“Nekad dan kemauan belajar adalah modal utama saya”


Sisi 1: Founder & Owner Go Ad

Seminarti Gobel atau lebih dikenal dengan Tati Gobel memang bukan orang yang monolitik. Kendati jabatan resminya founder dan owner PT Elmapuri Gopita atau Go Ad, namun kemampuan “akrobatiknya”- melompat dari satu divisi ke divisi lain, untuk menutupi kekurangan – sudah bukan barang aneh bagi tim suksesnya di Go Ad. “Kalau perlu, saya bahkan bisa jadi office girl”, selorohnya.

Padahal sebenarnya kiprah Tati di dunia advertising tidak diniatkan sejak awal. Mulanya wanita enerjik ini menempuh pendidikan Ilmu Politik di Hubungan Internasional UI dan bercita-cita menjadi diplomat. Setelah serangkaian tes di Deplu RI, tersadarlah dia bukan ke sana panggilan jiwanya. Tati lantas memutuskan untuk melanjutkan study ke Ohio University. Dalam sebuah acara yang diadakan PERMIAS, Tati berkenalan dengan almarhum Ken Sudarta. Setelah bincang-bincang yang inspiratif dengan almarhum. Terbukalah mata Tati tentang dunia advertising.

Seusai kuliah, Tati sempat menjadi Humas Garuda Indonesia selama setahun, lalu mantaplah tekadnya terjun ke advertising. Berdirilah Go Ad di tahun 1991. “Ketika itu modal saya hanya nekad dan kemauan belajar”, ungkapnya. Tati mengaku banyak belajar dari pergaulannya di lingkungan PPPI dan senior-senior industri periklanan. Tahap demi tahap dilalui Go Ad untuk tumbuh kembang seperti sekarang. “Awalnya kami mengerjakan segala hal, mulai dari membuat brosur yang kecil-kecil hingga akhirnya dipercaya menggarap campaign strategy besar”, katanya.

Uniknya, kendati berasal dari keluarga Gobel yang berjaya dengan Nasional Panasonic, Tati emoh bergabung dengan bisnis keluarga. “Selain karena pesan orang tua agar anak-anak wanitanya mandiri, saya juga merasa kurang leluasa belajar jika bergabung dengan usaha keluarga”, paparnya tanpa maksud merendahkan. Bahkan Go Ad pun awalnya tidak menggarap kegiatan advertising Nasional Panasonic. Baru setahun terakhir ini Go Ad menggarap corporate identity perusahaan elektronik besar ini. “Itupun melalui proses pitching yang ketat dan fair”, ujarnya.

Yang jelas setelah 15 tahun berkiprah di advertising, Tati masih selalu merasa momen menang pitching sebagai momen kebahagiaan tiada banding. “Setiap menang pitching perasaan bahagia itu pasti lahir kembali, karena tiap kemenangan melalui proses dan pengalaman tersendiri”, jelasnya. Hingga kini, Tati bangga dengan pekerjaan yang telah dilakukannya untuk para klien. Tercatat brand-brand seperti OTC, Bisolvon, Mixagrip, Strpsil, Ultra Fresh, Suzuki Thunder dan Satria dan Suzuki Grand Vitara pernah digarapnya. Meskipun kini Go Ad telah berkembang cukup mapan, tekad Tati untuk terus membesarkan Go Ad tak pernah surut.

Namun dalam urusan skala perusahaan, Tati tetap mempertahankan format kecil dan efektif, maksimal dengan 40 staf. Hal ini dimaksudkan agar tidak terentang jarak dan birokrasi antaranya dengan staf-stafnya. Dengan kepribadiannya yang hangat dan dinamis, Tati senantiasa berusaha mendorong potensi-potensi muda yang ditemuinya untuk maju di dunia advertising. Jika harus mengungkapkan rahasia dapurnya, maka dengan mantap Tati akan menjawab modal nekad, pantang menyerah dan kemauan belajar adalah kunci suksesnya. Rasanya patut juga untuk kita tiru.

Sisi 2: Publisher dan Producer

Setelah Go Ad bisa dikatakan cukup kokoh, Tati mulai melirik-lirik peluang diversifikasi usaha tetapi masih dalam lingkup komunikasi. Pucuk dicinta ulam tiba, datanglah tawaran Singapore Press Holding (SPH) Company untuk menggarap penerbitan salah satu majalah dari grup ini di Indonesia. Setelah uji kelayakan dan negosiasi, maka Tati memutuskan untuk menerbitkan Her World Indonesia di bawah panji PT. Media Ikrar Abadi (MIA) di tahun 2000.

Seperti pernah dilakoninya dengan Go Ad, kali ini pun Tati maju dengan strategi serupa. “Lagi-lagi modal nekad dan kemauan belajar” tegasnya. Tati tak malu mengakui kalau dia belajar banyak dari figur Soetikno Soedarjo, sahabat lama keluarganya yang telah makan asam garam industri media lewat MRA Media dan Suara Pembaharuan.

Untuk mulai berkecimpung di dunia yang sama sekali baru ini, Tati tak segan belajar lagi mulai dari masalah peristilahan, bisnis dengan advertising, sirkulasi, editorial dan sebagainya. Malah Tati merasa kegirangan karena di industri yang baru digelutinya ini selalu ada saja hal baru untuk dipelajari. “Industri ini menawarkan lahan untuk never ending learning yang harus digarap dengan serius”, ujarnya.

Tati sadar, ketatnya kompetisi di industri media membuatnya harus memasang kuda-kuda untuk selalu siap dengan perubahan. “Kita harus selalu menangkap apa yang tengah dikerjakan kompetitor dan apa yang diinginkan pasar, agar bisa terus membumi”, tambahnya. Lengah sedikit, maka akan banyak ketinggalan yang harus dikejar. Hingga kini Media Ikrar Abadi yang didirikannya telah meneritkan 3 majalah yang cukup diperhitungkan di segmennya masing-masing, yaitu Her World Indonesia, Her World Brides (wedding magazine) dan MAXIM Indonesia.

Momen-momen bahagia berhasil didapatinya lagi di industri ini lewat capaian-capaian yang tangible. “Sales bagus dan progress, respons pengiklan besar dan awareness luas” ungkapnya. Tati pun senantiasa berusaha untuk menjaga agar kiprahnya di industri ini tetap profesional, sehat dan mandiri.

Aksi terbaru Tati akan kita simak juga Agustus mendatang. Kali ini Tati melompat lagi ke dunia yang sama sekali baru, yakni industri film. Adalah Richard Oh, orang iklan juga, pemilik jaringan toko buku QB dan sastrawan yang awalnya menunjukan skenario film Koper yang tengah ditulis dan akan segera digarapnya. Tati sangat terkesan dengan skenario ini. “Film ini tidak melulu berorientasi komersial, tetapi juga mengajak berpikir dan menyampaikan pesan-pesan penting bagi bangsa ini”, katanya. Karena itu, Tati tak ragu-ragu untuk bergabung sebagai Executive Producer di film ini, lagi-lagi dengan modal nekad dan kemauan belajar. Film yang dibintangi Anjasmara, Maya Hasan dan Djenar Maesa Ayu ini segera bisa kita nikmati di gedung-gedung bioskop Agustus mendatang.

Semua langkah Tati ini selalu diawali dengan berpikir positif. “Apapun yang kita lakukan dengan sepenuh hati, pasti akan ada buahnya”, ungkapnya. Karena itulah konsistensi harus menjadi mandatory yang tak boleh dilupakan. Dengan segudang kesibukannya seperti sekarang plus sederetan lagi kegiatan organisasi, citra apa sebenarnya yang diinginkan Tati untuk dilekatkan orang pada dirinya? “Panggil saja saya Tati” ujarnya sambil tersenyum simpul menutup perbincangan. (EwinK)

Dimuat di Ad-Diction #04
Art Cinema TIM
“Cara baru cuci mata”


Apa yang biasa dilakukan untuk cuci mata? Tentu saja mencari pemandangan segar yang menghadirkan cara pandang baru. Kalau masih ABG, biasanya kita nongkrong di mal menyaksikan lagak dan gaya remaja. Tapi setelah dewasa seperti sekarang, tentu butuh cara baru untuk cuci mata. Salah satu cara yang paling disukai warga Jakarta adalah menonton film di bioskop. Hanya saja di bioskop regular, rata-rata kita disuguhi film Hollywood yang makin lama, makin terbaca pola dan formulanya. Lantas apa pilihannya? DVD bajakan? Wow, jangan dong. Piracy is a crime lho!

Sejak 29 Juni setahun silam, di Jakarta telah dibuka Art Cinema yang menempati Studio 1, TIM 21 di bilangan Cikini Jakarta Pusat. Gedung bioskop yang selama ini digunakan komersial itu, kini disulap menjadi Art Cinema yang dikelola Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) setiap tanggal 1 hingga 15 setiap bulannya. Art Cinema tak sekedar memutar film-film biasa, melainkan film-film yang dikurasi terlebih dulu oleh tim kurator yang dibentuk DKJ, yang antara lain beranggotakan Seno Gumira Ajidarma (FFTV IKJ), Alex Sihar (Konfiden), Tintin Wulia (Minikino), Budi Iwabski (Komunikatif), Lulu Ratna (Boemboe) dan Daniel Rudi Haryanto (Cinema Society). Selain film-film yang dikurasi khusus, Art Cinema ini juga memutarkan program-program khusus seperti Swedish Film Festival seperti yang sempat disaksikan Ad-Diction akhir Juni lalu.

Konsep Art Cinema semacam ini sebenarnya tidak asing ditemui di negara-negara lain. Di Jakarta sendiri, Ratna Sarumpaet sebenarnya konsepnya telah digagas sejak era Ali Sadikin di tahun 1960-an, abad yang lalu. Hanya saja eksekusinya ternyata harus menunggu lebih dari 5 windu kemudian.

Hera Diani, jurnalis The Jakarta Post yang sempat menjadi juri FFI 2004 berkomentar bahwa kehadiran bioskop semacam ini sangat diperlukan. Jadi ada venue untuk tidak sekedar menonton film-film mainstream. Film-film non-mainstream selain memberi perspektif baru, bisa jadi ruang belajar juga untuk sineas lokal.

Jadi mari cuci mata di Art Cinema. Bulan Juli ini, Art Cinema rencananya mengadakan IKJ Jump Street dalam rangka ultah IKJ dan menayangkan beberapa film pilihan karya sineas lokal. Semuanya bisa dinikmati dengan tiket yang berkisar 5000-10.000 rupiah saja. Siapa tahu bisa dapat ide baru untuk tugas-tugas kita.(ewink)

Dimuat di Ad-Diction #04

Monday, February 06, 2006

Anggur, Lambang Cinta yang Penuh Khasiat

Kalau ada orang bertanya, “Minuman apa yang paling popular di dunia? Maka salah satu jawabannya pastilah: ANGGUR! Mengapa anggur? Let’s check out the cellar…

Anggur atau lebih dikenal dengan Wine, memang telah menjadi minuman pergaulan sedunia. Bagi penyukanya, anggur tak hanya pelepas dahaga, tapi juga lambang atau hasil cinta kasih dan perjuangan. Berbagai tahap pembuatan mulai dari benih, penanaman, perawatan, panen, peragian dan lainnya membutuhkan perhatian ekstra intensif. Sebuah penantian panjang penuh resiko dan menerbitkan tangis, tawa, bahkan darah. Anggur dalam prosesnya dapat bersinggungan dengan pola hidup manusia di sekitarnya. Hasilnya wine menjadi sahabat manusia dalam berbagai aktivitas dan keadaan, mulai dari saat-saat susah, senang bahkan saat-saat ibadah yang kudus.

Wine adalah sebuah minuman yang diproduksi dengan cara fermentasi buah anggur atau sari buah anggur. Kata Wine sendiri diturunkan dari kata vinum dalam Bahasa Latin. Namun Bahasa Latin menyerap istilah itu dari Bahasa Georgia ghvino yang artinya buah anggur. Georgia sendiri adalah sebuah negara baru di Eropa Timur, namun telah memiliki sejarah panjang terutama dalam urusan wine. Sejauh ini dipercaya, bahwa lembah subur di negara pecahan Uni Soviet ini telah menjadi daerah penghasil anggur sejak 7000 tahun silam. Salah satu tradisi produksi wine tertua yang bisa ditelusuri di dunia, meskipun manusia pra sejarah diduga telah mengenal fermentasi terhadap buah anggur liar sejak zaman neolitikum alias 9000 tahun lalu. Sesudah era itu, proses produksi wine banyak ditemukan di situ-situs kebudayaan kuno seperti Mesir, Mesopotamia hingga Romawi.

Di zaman modern, Perancis terkenal sebagai negara penghasil anggur nomor satu di dunia. Boleh dibilang negeri ini memang memiliki keistimewaan sendiri. Tanah, alam dan iklimnya seolah-olah diciptakan khusus untuk menanam anggur. Tradisi membuat wine mulai dikenal di Perancis baru sejak sekitar tahun 600 SM. Seiring dengan waktu, reputasi beberapa wine region di Perancis menjadi penting dan diagungkan.

Tapi apa yang sebenarnya membuat wine sedemikian populer? Sejauh ini, masih ada perdebatan panjang mengenai dampak kesehatan wine. Namun agaknya sudah bisa dipastikan bahwa konsumsi wine dalam takaran tertentu dapat mengurangi resiko kematian, mengurangi resiki penyakit jantung koroner, juga kanker mulut dan lever. Namun bukan dampak kesehatan ini yang membuat orang keranjingan minum wine, namun karena wine sudah menjadi tak hanya sebuah minuman, namun juga sebuah produk kebudayaan. Proses yang dialami oleh buah anggur hingga menjadi wine yang lezat bisa jadi sangat unik untuk setiap botolnya. Dua botol anggur dari vineyard yang sama dengan tahun panen yang berbeda bisa memberikan rasa dan aroma yang berbeda pula.

Banyak orang mengenal wine, banyak pula yang mengaku penggemar wine. Namun tidak sedikit di antara mereka yang hanya menganggap wine sebagai minuman beralkohol belaka, tanpa mempedulikan rasa dan aroma untuk memadukannya dengan makanan atau suasana. Kita harus masuk lebih jauh agar bisa mengenal dan menikmati cairan yang kental muatan kulturalnya ini.

Setidaknya ada 5 cara mengklasifikasikan wine yang sering dilakukan, yaitu proses fermentasinya, rasa, tahun asal, jenis dan kualitasnya. Secara umum ada 6 jenis wine yaitu red wines, white wines, pink (rose) wines, fortified wines, sparkling red wines, dan sparkling white wines.

Red wine atau anggur merah adalah anggur yang berasal dari buah anggur yang berwarna merah atau hitam (black grapes). Warna merah diperoleh dari pencelupan kulit dan biji ke dalam sari buah yang telah diperas untuk difermentasi. Sebaliknya untuk white wine, bisa dibuat dari buah anggur jenis apa saja, asalkan selama proses fermentasi kulit dan bijinya sudah dipisahkan dari sari buahnya. Sementara rose wine adalah jalan tengah antara merah dan putih. Kulit anggur tetap dibiarkan sebentar melalui proses fermentasi atau jumlahnya dibatasi. Rose banyak diminum di musim panas karena rasanya yang menyegarkan dan lebih ringan daripada red wine. Nama-nama yang terkenal untuk red wines adalah Pinot Noir, Merlot, Syrah/Shiraz, Bordeaux, Burgundy, Cabernet Sauvignon dan lain-lain. Sementara itu untuk white wine yang cukup popular adalah Chardonay, Meursault, Chablis, Sauvignon Blanc dan lain-lain. Red wine cocok dinikmati sambil melahap red meat seperti daging sapi atau kambing dan white wine cocok dinikmati sambil menyantap white meat seperti daging-daging unggas.

Sementara itu fortified wine adalah wine yang dalam proses fermentasinya ditambahkan sejumlah alkohol tertentu atau gula. Tujuannya jelas untuk menambahkan rasa manis atau kadar alkohol dari wine tersebut. Fortified wine acap kali disebut juga dessert wine atau liquer wine. Salah satu jenis dessert wine yang cukup unik adalah ice wine. Ice wine adalah wine yang diproduksi dari anggur yang beku. Hal ini memberikan karakter manis yang segar dan keasaman yang seimbang.

Sparkling wine adalah wine yang memiliki gelembung buih seperti soda. Buih-buih itu disebabkan oleh adanya kandungan karbon dioksida (CO2) dalam wine tersebut. Karbon dioksida tersebut adalah hasil natural yang dilakukan pada wine tersebut selama fermentasi atau bahkan sesudah pembotolan. Contoh paling klasik dari sparkling wine adalah Champagne. Champagne adalah wine yang dipengaruhi proses fermentasi sekundernya hingga dia mengandung karbon dioksida. Perlu diketahui bahwa nama Champagne ini hanya boleh digunakan oleh sparkling wine yang diproduksi di daerah Champagne, Perancis saja. Nah, kalau Anda disajikan wine yang berbuih, jangan tergesa-gesa meyakini bahwa Anda sedang minum champagne. Cek dulu botolnya, bisa jadi Anda hanya minum sparkling wine biasa.

Selain itu banyak mitos yang beredar seputar wine. Misalnya saja penyebutan tahun yang tertera di botol sebuah wine. Selama ini beredar mitos bahwa semakin tua tahun yang tertera, maka semakin bagus kualitas wine tersebut. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Ada wine yang dirancang untuk disimpan lama, ada pula wine yang lebih baik dinikmati secepatnya. Penyebutan nama tahun bisa merujuk pada hal ini. Selain itu, penyebutan nama tahun bisa merujuk pada tahun panen tertentu yang sangat sukses atau umumnya dikenal dengan golden year atau golden harvest. Tahun panen yang bagus pasti menghasilkan sebotol anggur yang luar biasa.

Menikmati wine adalah sebuah petualangan. Petualangan menyingkap latar belakang sejarah, budaya dan kekhasan lainnya. Salah satu film terbaru yang menunjukan asiknya bertualang mengenal wine adalah Sideways, yang sempat dinominasikan untuk kategori Best Picture di ajang Oscar 2005 lalu. Nikmatilah petualangan dan pencaharian Anda dengan wine. Jangan lupa untuk berbagi cerita dan petualangan dengan sesama pecinta wine. Selamat bertualang!

Sebagian tulisan di atas dimuat oleh platinum magazine-Citibank edisi 4

Saturday, January 21, 2006



Romance on The Railway
Petualangan mengesankan bersama Venice Simplon-Orient-Express


Masih ingat petualangan detektif ternama Hercule Poirot saat memecahkan misteri pembunuhan di atas kereta api dalam Murder on the Orient-Express? Atau, ingat pelarian elegan a la Cruella de Ville dalam 102 Dalmatians? Atau justru terkesan dengan pertemuan romantis sepasang remaja dalam Before Sunrise? Memang Orient-Express sudah lama digelari sebagai world's most celebrated train. Bukan karena pemunculannya dalam berbagai film yang mendongkrak popularitasnya, sebaliknya, karena ketersohorannya, Orient-Express tampil dalam sejumlah film. Satu hal yang pasti, gerbong-gerbong mewah Orient-Express seolah-olah senantiasa selalu siap mengantar kita menemui momen dan pengalaman berharga. Pengalaman panjangnya juga telah merekam berbagai hal, mulai dari kisah cinta hingga peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah dunia.

Orient-Express adalah nama kereta penumpang jarak jauh yang melintasi Eropa. Rutenya telah berubah berkali-kali dan berbagai rute pernah menggunakan nama ini secara bergantian. Meskipun nama Orient-Express awalnya hanyalah layanan jalur kereta api internasional biasa, namun kini nama itu telah menjadi nama yang legendaris dan sinonim dengan luxurious traveling. Orient-Express mengangkut penumpangnya melintasi Eropa dengan kemewahan bergaya tempo dulu yang klasik. Gerbong-gerbong mewah, makanan yang lezat dan layanan pribadi yang tiada banding menjadikan Orient-Express tempat yang sempurna untuk perayaan khusus atau liburan.

Kereta api legendaris ini melakukan perjalanan perdananya pada 4 Oktober 1883, bertolak dari Paris dengan tujuan Giurgiu, Romania, melalui Munich, Wina, Budapest dan Bucharest. Namun rute lengkapnya baru beroperasi pada 1889 yakni dari Paris menuju Istanbul. Dalam perjalanannya, Orient-Express sempat berhenti beroperasi karena Perang Dunia I dan II. Masa keemasan angkutan mewah ini terjadi pada dekade 1930-an. Ketika itu, Orient-Express secara resmi mengoperasikan tiga jalur hingga kota Athena. Pada masa inilah, Orient-Express mengukuhkan reputasinya sebagai kereta api yang nyaman dan mewah, berikut layanan restorannya yang terkenal selalu menyajikan makanan-makanan lezat. Dengan layanan semacam ini sudah pasti keluarga-keluarga kerajaan, kaum aristokrat, pengusaha, kaum borjuis dan para pesohor menjadi pelanggan tetap Orient-Express.

Sejak saat inilah Orient-Express mulai diceritakan dalam kisah-kisah fiksi dan kadang-kadang diangkat juga ke layar lebar. Hingga saat ini, setidaknya belasan judul film telah menggunakan Orient-Express sebagai latarnya. Selain itu, 19 buku ditulis tentang kereta api tersohor ini. Salah satunya adalah Murder on the Orient-Express karya Agatha Christie.

Dekade 1970-an menandai mulai redupnya popularitas Orient-Express. Banyak yang menduga bahwa layanan kereta api ini akhirnya akan padam selamanya. Direct Orient-Express akhirnya berhenti beroperasi. Perjalanan terakhirnya dari Paris ke Istanbul berlangsung pada 19 Mei 1977. Dengan ditutupnya Orient-Express, banyak orang yang khawatir jika momen-momen indah, romantisme dan pengalaman-pengalaman berharga lainnya di atas Orient-Express hanya akan tinggal dalam kenangan saja.

Namun ternyata kekhawatiran ini tidak berlangsung lama. Pada 1982, James Sherwood, pemimpin Sea Containers Inc. memulai layanan Orient-Express baru yang dinamakan Venice Simplon-Orient-Express (VSOE). Pada 25 Mei 1982, sang legenda pun akhirnya terlahir kembali. VSOE memulai perjalanan perdananya dengan melayani jalur London ke Venice. Layanan VSOE menggunakan gerbong-gerbong vintage yang sudah direstorasi dari era keemasan Orient-Express di tahun 1920-an hingga 1930-an. Hingga kini, VSOE masih terus beroperasi mengantarkan para penumpangnya menjelajahi Eropa sambil menikmati pemandangan sempurna dalam sebuah perjalanan paling romantis di dunia.

Life On Board
Beragam kisah sudah diceritakan tentang Orient-Express dari berbagai sudut pandang. Namun apa yang sebenarnya bisa didapatkan ketika kita menaiki VSOE? Menaiki VSOE, kita seperti melangkah kembali ke masa-masa indah dan elegan. Begitu naik, Anda akan langsung diantar menuju kompartemen Anda yang terbuat dari kayu dan kuningan yang berkilau cemerlang. Kompartemen itu sendiri akan benar-benar menjadi tempat beristirahat dengan layanan hotel bintang 5 dan menawarkan pemandangan menakjubkan sebuah dataran yang terus berubah.

Makanan Anda selama dalam perjalanan pun akan menjadi sebuah pengalaman berharga tersendiri. Jangan sampai lupa untuk bersantai di Bar Car. Bar ini terkenal dengan beragam pilihan cocktails yang sedap dan yang terpenting, welcoming atmosphere. Membuat Anda akan merasa betah berlama-lama di dalamnya, sambil mencari kenalan baru. Kemudian, coba juga untuk mampir di salah satu dari tiga kereta makan yang dimiliki VSOE. Di kereta makan ini, Anda akan merasakan sebuah tamasya kuliner yang memanjakan selera. Apalagi disajikan dengan balutan kemewahan yang ditandai dengan fine linen, French silverware dan heavy crystal. Kita benar-benar dilayani untuk mencicipi a meal to remember.

Destination: Everywhere!
Layanan VSOE kini melayani dua jalur utama, yaitu Paris-Budapest-Bucharest-Istanbul dan Istanbul-Bucharest-Budapest-Venice. Keduanya ditempuh dalam 6 hari 5 malam. Anda tidak hanya akan terus menerus berada di dalam kereta, namun VSOE juga menawarkan serangkaian acara wisata kota yang menyenangkan. Selain dua jalur utama itu, VSOE juga akan mengantar Anda ke London, Roma, Wina dan Praha lewat berbagai paket wisatanya.

Dengan VSOE, kita diajak kembali menggali menjelajah Venice. Tanah asal Marco Polo dan Cassanova ini masih menawarkan romantisme yang rupanya dulu pernah menginspirasi Cassanova dalam kisah-kisah cintanya. Meskipun Venice terkenal dengan wilayah perairan yang cukup luas, namun di kota ini kita akan senantiasa haus akan pengalaman berharga yang tak terlupakan.

Selanjutnya VSOE juga akan mengantar Anda ke Wina. Sebuah kota budaya dalam kesejatiannya. Wina sering juga dijuluki sebagai ibukota musik dunia, karena di kota inilah sejarah mencatat komposer besar seperti Wolfgang Amadeus Mozart meraih popularitasnya. Bersama VSOE, kita akan sama-sama diajak untuk menjelajah kota bergaya baroque ini, ke jantung-jantung kebudayaannya.

Satu yang sudah pasti tak boleh terlewatkan, tentulah Paris! Kota bagi orang-orang yang tengah dimabuk asmara. Kota ini memang senantiasa menawarkan kenangan yang tak terlupakan. Mulai dari bersantai sambil menyeruput secangkir kopi di Place de l’opéra hingga dansa romantis yang hangat di Moulin Rouge. Atau, menyatakan cinta di puncak Menara Eiffel sambil menikmati cahaya kota yang berpijar bak sejuta kunang-kunang.

Lalu, sempatkanlah juga untuk singgah di Praha. Kota ini adalah salah satu warisan kejayaan abad pertengahan, namun kemudian turut terimbas gelombang art nouveau. Hal ini menjadikan Praha sebuah kota yang kaya dengan cultural dan artistic heritage dalam sebuah semangat ekletik yang murni. Praha kini adalah sebuah kota yang terus berubah menuju modernitas dari sebuah kota di bawah pengaruh komunisme. Namun berbagai aliran yang hadir dan mewarnai kota ini, kini membekaskan jejak-jejak kultural yang elok dan menarik disimak.

Salah satu trayek legendaris yang masih dilayani oleh VSOE adalah Istanbul. Pintu gerbang Timur dan Barat ini masih menawarkan eksotisme seperti yang senantiasa digambarkan dalam kisah-kisah sejarah. Kota tua yang tersentuh oleh peradaban-peradaban besar dunia ini menampilkan wajah pluralisme kebudayaan yang harmonis. Hal ini tentu saja memudahkan kita untuk menggali warisan peradaban-peradaban besar itu.

Lantas, VSOE pun akan mengantar Anda ke jantung budaya kosmopolitan Eropa, yaitu London. Namun berbeda dengan kota-kota kosmopolitan di benua lain. Kosmopolitanisme London adalah modernitas yang dibalut dengan tradisi klasik yang khas. Pusat-pusat perbelanjaan mewah akan menjadi tempat kunjungan yang menyenangkan, namun di sisi lain, kunjungan ke istana-istana kerajaan akan menawarkan kemegahan yang tak tergoyahkan hingga kini.

Perjalanan dengan VSOE memang akan mengantar Anda ke kota-kota besar Eropa yang telah memiliki sejarah kejayaan yang cukup panjang. Lebih penting lagi, perjalanan ini pun akan mengantarkan Anda meraih sesuatu yang tidak ternilai harganya, yaitu pengalaman mengapresiasi keindahan dan kedalaman budaya. Perjalanan yang akan mengispirasi Anda terus untuk menciptakan keindahan-keindahan di muka bumi, dengan cara Anda sendiri.

Dimuat di Canvas - ABN/AMRO - Februari 2006

Sunday, December 28, 2003

To Celebrate Love Between A Writer and A Reader
Edwin Irvanus

Hallucinating Foucault by Patricia Duncker, Paperback, Publisher: Vintage, Published: 1996, Pages: 173


How much is the love between a writer with their readers? Here it comes, a novel about the relationship between the author and his reader, about the responsibility of the reader to love the writer - that sounds potentially captivating. Every writer writes for a reader. Every writer sends a voice out, hoping to reach the person who can answer. The relationship may be acknowledged or not, it doesn't matter-it exists. Hallucinating Foucault, Patricia Duncker's first novel, is an exploration into the intangible intimacy that binds together the writers of words and the person who reads them. When reader and the writer meet their relationship changes. Does it culminate? Consummate? Unfold? Does it destroy them? Patricia Duncker's Hallucinating Foucault is smart about the seductions of reading, writing and sad fact about fantasy realized, the difficulties of love lived in the flesh.
In this spellbinding novel, Duncker explores a love more mysterious and treacherous than any other: the romantic love between a writer and a reader. The young, nameless narrator of Hallucinating Foucault is a graduate male student of Cambridge University who is writing a dissertation on the work of that French novelist, Paul Michel. Paul Michel is a writer, an enfant terrible of the French literary world, homosexual, anarchic and mad. He is Brilliant, beautiful, and gay with vengeance, Michel scandalized his society with his transgressive fiction and his audacious life. Paul Michel has some ambiguous connections to the real-life author of Histoire de la Sexualité, L'Archéologie du Savoir and many other books, Michel Foucault -the French philosopher who died of AIDS in 1984-' not least that he was taken into custody for berserkly vandalizing a graveyard less than a week after Michel Foucault's death in 1984. For Michel, Foucault was his Muse, his reader, and, when Foucault died, he went mad. Michel's violent despair caused him to be legally restrained by the State in a mental hospital. He has not been seen in public for over nine years-but Duncker's narrator decides to find him.
In this complex novel, readers try to declare their hopeless love for writers. It is one of many fitting ironies in this intricate novel. Its central authorial figure is incarcerated in an insane asylum, incommunicado except for his literary works. Yet the nameless Cambridge graduate student who narrates this elaborate book is at first merely interested in reading Michel's subtly transgressive novels, not in going on a post-modern ''Aspern Papers'' chase. It is only after being goaded by his girlfriend, a Germanist so passionate about her studies that she writes love letters to Schiller, that he starts tracking down the sequestered author. But a little disturbance in the first part of this novel is about relationship between Narrator and his icy girlfriend is painfully contrived. Our young Narrator seems more impressed by literary passion than by any other human characteristics.
Duncker writes for an educated reader and her characters are clever and challenging but not always completely human. Partly, this is deliberate. Her narrator tends to apply bitter labels to others in his story rather than name them. His depiction of "The Germanist", the woman who seduces him and leads him into finding Paul Michel for motives of her own, verges on caricature. As does his picture of her gay father, known throughout his story as "The Bank of England". In contrast to these, Paul Michel is disturbingly alive and human. And the narrator's experience of Michel's madness, which is often a deliberate flouting of normal conventions, (rather reminiscent of Jack Nicholson's zany madness in the film of One Flew Over the Cuckoo's Nest) is exceptionally well conveyed.
Duncker litters the trail with clues and surprises. ''You ask me what I fear most,'' Michel writes in an unsent letter to Foucault, which the narrator finds in a Paris archive. ''You know already or you would not ask. It is the loss of my reader, the man for whom I write.'' Foucault metamorphoses from an ''Oedipal ogre'' into Michel's ideal reader.
In exploring the mysterious bond between writer and reader, Ms. Duncker sets up tantalizing parallels between her fictional author and Foucault. Both are drawn to society's margins, both are preoccupied with madness and desire, and both use their writing as a means of rebellion. But while Foucault had at one time wanted to write fiction, Michel writes nothing else. And while Foucault's academic career began at Clermont-Ferrand, Michel ends up there as a patient in a closed ward.
When the narrator at last meets Michel, he introduces himself to the writer simply as ''your English reader.'' With that declaration, they begin their own weirdly intimate writer-reader relationship. As Michel's psychiatrist puts it, the narrator has arrived ''courting him like a lover.'' However elegantly composed his novels are, in person the amoral and sarcastic Michel disconcertingly resembles Jean Genet. Despite -- or because of -- his abrasive behavior, he manages to enthrall the narrator more intensely in the flesh than he ever did on paper. Defying easy diagnosis, Michel seems to feign both sanity and madness. ''I found that I had been writing -- on my knees, on my hands, on the inside of my right arm. When I saw the writing I knew I was mad,'' he lucidly explains to the narrator. He has suffered from hallucinations and paranoia, been drugged and forcibly restrained, and escaped several times from the asylum.
In spite of Michel's own warnings and his psychiatrist's misgivings, the narrator naively plots to rescue the writer, securing a temporary release for him in the south of France. Although the narrator does not realize its significance, the vagabond Michel has already spent time there; he met his first love on the region's rocky beaches. Hinted at in his novel ''Midi,'' the secret of this love gives the climax of the labyrinthian ''Hallucinating Foucault'' a final, 180-degree plot twist.
''The love between a writer and a reader is never celebrated. It can never be proved to exist,'' Michel tells the narrator after they have begun their peculiar affair. The readers in ''Hallucinating Foucault'' nonetheless try to declare their hopeless love, though it may lead to disaster or become idealized into obsession. Even Michel's secret relationship with Foucault rests only on Michel's dubious testimony and whatever the fixated narrator reads into the two men's works.
Intriguing title, which continued in the book in terms of the plot. Very direct style that has immediacy. The Style absorbed me from the beginning. Once finished I had to re-read it to enjoy the working out of the plot. An absorbing intelligent reading about what it means to be a 'reader'. After a dull start I was gripped by the 'hero's' passionate quest and moved by the uneasy outcome. An unusual and unlikely story, but so convincingly told that I could have believed it to be autobiographical rather than a first novel. Dealing with a student's obsession with a French writer, this novel is a must for anyone who has researched a writer's life. It would not appeal to everyone, as homosexuality and insanity are two of the subjects involved in the book. P. Duncker takes us into a world of students and writers, culminating in an unwise relationship between a young man and a middle aged author who has been certified insane. A good lesson on how love is not necessarily gender based - accepting and loving someone for who they are rather than male or female. Very real characters, fast moving story.
Patricia Duncker was born in the West Indies. She teaches writing, literature and feminist theory at the University of Wales and lives for part of the year in France. Hallucinating Foucault, her first work of fiction, won the 1997 Dillons First Fiction Award. Monsieur Shoushana's Lemon Trees, a collection of short stories, is also available from Serpent's Tail.
Duncker, for all these paradoxes, is fervent about the intimacy the act of reading can evoke. A fierce intellectual passion transfuses her cool, spare prose and her shifting characterizations in a fascinating drama of knowledge and power, reason and desire. Amid the mind games and power plays of this austere, romantic novel, the ideal reader could risk an ideal hallucination. Duncker's strength is her compassion for the disturbed, her sympathy for the outsider, the maverick. The novel's premise is certainly noteworthy, that the privilege of readership demands the love of the reader. Duncker draws out the tensions between the youth and the middle-aged, the mad and the sane, the writer and his reader with clear, unornamented prose. And while the story is dark and sometimes disturbing, it is throughout touched with humour, compassion, and a curious kind of hope. Duncker skillfully layers the relationships between writers and their readers. Her use of fictionalized articles and letters makes us part of the narrator's process of research and discovery, and when we finally do meet the truly mad, entirely unpredictable and fascinatingly hilarious Paul Michel, we have invested as much into the relationship as he has.
Quite simply, Hallucinating Foucault has become one of my few favourite books.